BEKASI – Ruang Aula Alawiyah Lantai 8 Kampus 1 Universitas Islam As-Syafi’iyah (UIA) mendadak riuh oleh diskusi tajam dan debat seru para praktisi pendidikan. Hal ini terjadi dalam gelaran Workshop Deep Learning in Education yang menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian FKIP FESTIVAL 2025, Sabtu (28/6).
Kegiatan yang diprakarsai oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UIA ini bekerja sama dengan Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI). Workshop ini berhasil menarik minat puluhan guru, dosen, hingga pemerhati pendidikan yang antusias menyoal efektivitas metode pembelajaran mendalam di era kecerdasan buatan.
Ajang Adu Gagasan Praktisi dan Akademisi
Isu Deep Learning (pembelajaran mendalam) menjadi magnet diskusi karena perannya yang krusial dalam mengubah pola pikir siswa dari sekadar menghafal menjadi memahami secara substansial.
Selain menghadirkan narasumber ahli, sesi ini menjadi menarik dengan kehadiran Amalia Fardiani, M.Pd., Kons., seorang guru berprestasi dari MAN Insan Cendekia (IC) Sumedang. Amalia membagikan perspektif praktis mengenai implementasi metode ini di level sekolah menengah unggulan.
Diskusi yang berlangsung dinamis ini dipandu oleh dua moderator akademisi, Dr. Thrisia Febrianti, M.Pd. dan Chusnul Chotimah, M.Pd., yang sesekali memicu "debat panas" antara peserta mengenai kesiapan infrastruktur dan mentalitas guru di Indonesia dalam mengadopsi teknologi pembelajaran modern.
Sinergi dengan Jurnalisme untuk Edukasi Publik
Keterlibatan PJMI dalam workshop ini memberikan dimensi baru. Sinergi ini memastikan bahwa isu-isu berat seperti Deep Learning dapat dikemas menjadi narasi yang mudah dipahami publik melalui literasi media yang tepat.
"Workshop ini bukan hanya sekadar teori, tetapi ajang refleksi apakah pendidikan kita sudah benar-benar 'dalam' atau masih di permukaan. Kerjasama dengan PJMI membantu kami menyebarluaskan pentingnya metode ini kepada masyarakat luas," ujar salah satu penyelenggara dari FKIP UIA.
Poin Utama yang Menjadi Sorotan:
- Transformasi Peran Guru: Dari penyampai informasi menjadi fasilitator pemikiran kritis.
- Integrasi Teknologi: Bagaimana perangkat digital tidak sekadar menjadi pengganti buku, tapi alat analisis data pembelajaran.
- Tantangan Implementasi: Kesenjangan fasilitas di berbagai wilayah Indonesia.
